instagram

Anggi Weffani

Waktu itu kau bilang
pergi ialah jalan
yang tak kau mengerti
hingga kemudian
Ia tampak mudah
untuk dilakoni
kau angkat kaki

Waktu itu kau bilang
pulang ialah tujuan
menuju aku atau enggan
melangkahlah kedepan
maka kau akan sampai
hingga kemudian
diubahmu arah pulang
kau salah jalan

Senin lalu kutanya kau mau apa?, kota impianmu itu yang bagaimana?.

Ke Surabaya naik sepeda atau ke luar angkasa?,
akan kulakukan untukmu semua..
Hari ini, kau di teras rumah bersama kopi,
kuhampiri dengan badan bau matahari.
Sudah siap saja sebotol bir berisi debu,
Requestmu yang waktu itu
“Ini, debu dari bulan hasil jerih payahku.” Berbinar, tanganku ruam-ruam.
“Jangan bercanda, memangnya kamu punya roket?” sembari tertawa,
kau berusaha memaklumi manusia aneh satu ini.
Tepuk tangan akan prestasiku ternyata cuma halu.
Aku diam saja.
Berdiri.
Tahu diri.
Takut debu dari bulan saja tidak cukup,
Kubakar hati dan perasaanku juga,

“Ini, untuk jaga-jaga, barangkali kurang.”

Ada seorang teman yang ketika ditanya ‘akan jadi apa?’, ia jawab pertanyaannya sebelum detik ketiga. Ada seorang teman yang ketika ditanya ‘sudah sampai mana?’, ia jawab pertanyaannya dengan rangkaian suka cita. Ada juga mereka yang berhasil raih ini dan itu, hingga membuatmu tertunduk dan malu.

Sebagian manusia memang seberuntung itu dimatamu, sebagian lainnya masih berharap keringatnya punya makna. Membuatmu lupa bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan waktu sedih dan senang yang berbeda-beda.

Pernah terpikir, akan jadi apa kamu nantinya?, akan menciptakan rasa bangga sebesar apa?. Isi kepala kadang jadi penuh dan riuh. Kamu dibuat buta bahwa tubuhmu juga dipenuhi talenta, kamu membuatnya terlihat jauh diatas sana dan sulit untuk ditarik, beberapa justru jauh dari pandangan mata.

Kalimat keluhmu berantakan dimana-mana, melapisi hatimu yang jadi sekeras batu. Disadarkan dengan kalimat motivasi pun tetap buntu.

Sabar.. Nikmati prosesnya, maafkan rasa sedihnya. Mendung harus dilewati agar tanamanmu tumbuh, rapuh harus dilalui agar tahu rasanya utuh. Setiap manusia dilahirkan dengan ceritanya masing-masing. Berhenti membandingkan. Kamu punya waktu dan kebahagiaanmu sendiri.

Aku punya banyak cerita yang bahkan ingin kuberi titik sebesar jagad raya. Tak henti mendambakan kedatangan. Beranggapan bahwa damai dapat diciptakan ramai-ramai. Aku ingin mereka yang datang akan menetap tanpa bersumpah, duduk diam mendengarkan tanpa iringan kalimat serapah.

Aku ingin memaafkan diriku sendiri. Mengiyakan bahwa jadi sempurna bukan tujuan hidup yang sebenarnya. Aku, yang-suka mengeluh-ini harus tahu, orang lain pun punya noda disetiap cerita yang tampak berwarna. Maka berhentilah aku untuk meminta kehadiran mereka.

Aku benci sendirian maka kuseret kau masuk kedalam hidupku yang bercabang. Kau tahu sendiri aku ahlinya mengada-ada, mengkhawatirkan sesuatu yang semu keberadaanya. Maaf ternyata Tuhan menciptakan aku sebagai manusia yang rumit, pun aku diciptakannya menjadi wanita yang tak mudah dicinta, untuk dipahami pun sulit.

Maka sebelum sesakku menyulitkanmu juga, sebelum keluhku menghantuimu juga, kita berhenti untuk saling memahami. Maaf pernah memaksamu untuk selalu ada. Kau pasti lelah dan aku pun sama. Sebagaimana gelapku merebut terang yang kau punya.

Barangkali aku ialah bunga yang tak kau genggam, lebih baik ternyata karena tubuhnya berduri tajam.

Semoga dilimpahkan kebahagiaan dalam dirimu oleh-Nya. Terkutuk lah orang-orang yang berusaha menyakitimu tanpa kecuali. Meluaslah lapang dalam dadamu agar menerima keadaan tak lagi sulit dilakukan.

Semoga tiada satu hari pun yang kau lewatkan tanpa bersyukur. Semoga lalai dirimu dalam mencelakai diri-sendiri. Tersenyumlah kamu dihadapan cermin atau aku. Enyahlah hal yang biasa kau keluhkan dan keluarlah kalimat indah dari setiap lekuk bibirmu.

Semoga diberkahi langkah kakimu tanpa sakit setelahnya. Empuk dan bersih kasurmu dari segala hal jahat yang menghalangi waktu tidur. Mengalirlah air mata bahagia disudut matamu.

Semoga kecewa bukan lagi hal biasa. Terjauh telingamu dari kalimat kasar yang orang lain ukirkan. Semoga cahaya matahari adalah terang yang menyenangkan dan kekosongan malam bukan sesuatu yang kau rindukan

Semoga tak ada lagi manusia yang datang lalu pergi seenaknya. Meredalah luka lebam dihatimu yang kau tahan dalam-dalam. Merekahlah senyuman diwajahmu meski berat beban yang kau genggam. Rebahlah badanmu tanpa letih dan tenang setelahnya.

Berbahagialah kamu. Bertahanlah kamu. Seikhlas-ikhlasnya. Sekuat-kuatnya.


Suatu hari nanti kamu akan menyadari bahwa aku sudah tidak ada lagi. Tidak ada perempuan yang menatapmu sembunyi-sembunyi, tidak pula menunggu untuk diberi hati. Sebagian dariku dulu kau bawa tapi tidak kali ini, mulai hari ini kau adalah milikmu dan aku adalah milikku sendiri.


Suatu hari nanti kau akan mengerti bahwa sendirian itu melelahkan. Membangun harapan yang ternyata tidak pernah diberikan, memaksa kebetulan jadi sesuatu yang berhubungan, padahal berkata cinta saja kau tidak pernah. Kau akan tahu sebesar apa tenaga yang dulu kuhabiskan hanya untuk mengambil hatimu yang kau jaga bukan untukku.


Suatu hari nanti kau akan menyesali kenapa tidak kau genggam perasaanku ini. Alih-alih memahami kau justru gegabah dengan rasa sendiri. Kepergianku adalah tanaman yang benihnya sudah kau sebar sedari dulu, kau pupuk dengan ribuan kalimat penolakan.


Selesai, sudah kuselesaikan malam ini juga. Tidak ada lagi yang perlu dibalas, karena rasaku bukan lagi sebuah pertanyaan. Kuhisap semuanya habis, sakit atau tidak mengejarmu bukan sebuah jawaban.


Selamat untuk kebebasan barumu, selamat untuk langkah kakimu yang kini tak lagi kuiringi. Berbahagialah kau apapun yang terjadi, menyesal bila perlu, tak usah kembali, nikmati penyesalanmu sendiri.

Sebelum membaca ‘jawaban’ , baca dulu ‘tanda tanya’ di sini.

***
Kamu pun tahu, cinta punya banyak rupa dan belum tentu kebersamaan adalah jawabannya.

Peduli atau tidak, kita pernah bersama dan itu membahagiakanku. Kepergianku bukan tanpa alasan, mencampakanmu pun bukan suatu ketenangan. Atas nama rindu dan kenangan manis yang pernah kita kecap bersama, aku tahu mempertahankan bukan hal yang mudah pun perpisahan tidak sepenuhnya indah. Tapi sebuah hubungan butuh banyak hal dan kepercayaan adalah salah satunya.

Mari kita longgarkan ikatan yang dulu menyakiti tubuhmu hingga biru. Gunakan waktu sendiri dengan sebaik-baiknya, aku adalah milikku sekarang dan kamu pun milik dirimu sendiri. Tidak ada kalimat indah yang pantas menghiasi kepergianku, tapi kamu harus paham aku tidak pernah benar-benar melambaikan tangan.

Sepi bukan teman yang baik tapi orang bilang ia menyembuhkan. Kita harus memperbaiki segala hal yang berantakan. Sama seperti katamu, aku pun Bahagia kita pernah ada, pernah bersama, tapi kata ‘pernah’ hanya omong kosong untuk segala pertengkaran kita.

Tidak perlu banyak menunjukan luka, aku tahu sendiri setelah berdua itu menyakitkan. Bukan hanya kamu tapi aku pun kehilangan. Setiap sudut kota punya cerita perihal kita, tempat itu pun masih ada, kita yang berakhir.

Rasi bintangmu yang kupelajari kecocokannya dengan milikku, menu makanan yang sering kau pesan di kedai seberang jalan, atau jaket yang kau banggakan karena warnanya adalah kesukaanmu. Tidak kulupakan hal kecil tentangmu yang khas dan lucu itu. Kita pernah ada dan akan selalu begitu.

Kamu harus mulai mencoba menata segala hal yang kamu anggap perlu dan mulai percaya dengan yang lainnya. Sesuatu yang pergi perlahan akan mulai merangkak menyesali tapi akan kucoba untuk mulai mengikhlaskan apa-apa yang dulu kita bangun dengan hati. Sudah, ya? bukan tidak bisa berdampingan dengan ketidaksempurnaanmu tapi kita butuh jeda.

Daripada kita mengulang rasa sakit berkali-kali, mari kita izinkan saja hati yang lain untuk menghuni.
Older Posts

Postingan Populer

  • Aku Ingin
    Aku ingin jadi manusia tempatmu pulang setelah sepanjang hari memangku beban. Menjadi satu-satunya telinga yang mendengar ceritamu tentang...
  • Rumpang
    Walaupun belum kau tanya tapi akan kujawab ‘iya’ sedari awal. Kau pernah bilang memendam perasaan sendirian itu menjengkelkan, lalu ka...
  • Tuhan dan Kita
    "Aku takut tuhan marah.” ucapku dengan wajah khawatir. Kau terdiam, kemudian semuanya berlalu begitu saja seolah Tuhan mengiyakan keput...

Mengenai Saya

Anggi weffani
Temukan saya di instagram @anggiweffani selamat membaca.
Lihat profil lengkapku

LET’S BE FRIENDS

recent posts

Blog Archive

  • Maret (1)
  • Februari (1)
  • Desember (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (2)
  • Mei (2)
  • April (5)






Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates