Tuhan dan Kita

by - Mei 09, 2020

"Aku takut tuhan marah.” ucapku dengan wajah khawatir. Kau terdiam, kemudian semuanya berlalu begitu saja seolah Tuhan mengiyakan keputusan kau dan aku. Dibawah bulan purnama ditemani suara riuh kota, tak ada yang tahu saat itu, dua tangkai hati manusia melantunkan rasa kecewa.

Meskipun tampak semu dan diakhiri dengan ragu, kau dan aku tahu setiap sudut kota punya cerita dan akan tampak berbeda sebab tidak ada lagi kau disetiap bisikan angin yang kulewati.

Masih kuingat ekspresi takutmu ketika badanku lemas ditengah perjalanan kita mendaki bukit. Tak juga kulupakan wajah jengkelmu ketika kupaksa mengenakan bando kelinci merah muda, “kamu mencederai ketampananku” ucapmu dengan wajah menggerutu, lucu sekali.

Tak akan kuganti nama kontakmu yang hingga kini masih ‘milikku’. Tak juga kuhapus nomor handphone ibumu yang sering menggunggah foto kue ber-caption ‘fresh from the oven’.  Tak kuhentikan kebiasaan menonton film ‘Harry Potter’ walau tak ada lagi kamu yang maha spoiler.

Tak kunjung kulupakan kebiasaan kita dihari minggu ; kau yang menghampiriku dari gereja St.Maria, aku yang menyambutmu disudut café selepas dhuha.

Kau dan aku tahu Tuhan itu satu dan rasa cinta kita mengalir hingga urat nadi, pun kita tahu bahwa tidak ada kalimat penenang yang bisa kita pegang karena sebuah hubungan tak hanya membutuhkan dua hati yang saling nyaman, tapi juga hati yang seiman.


You May Also Like

0 comments