instagram

Anggi Weffani


Aku ingin jadi manusia tempatmu pulang setelah sepanjang hari memangku beban. Menjadi satu-satunya telinga yang mendengar ceritamu tentang dunia dan keluh kesahnya. Aku ingin jadi ahli merangkai kata agar lukamu punya suara, sebab luka butuh bicara. Membenarkan semua hal yang berantakan. Menyembuhkan lara yang kau simpan diam-diam.

Aku ingin jadi satu-satunya wanita yang kau genggam, kau ajak pulang. Lalu kuisi sudut rumah dengan ornamen yang orang lain juga punya tapi jadi tak biasa sebab itu milik kita.

Aku ingin jadi tujuan akhir matamu menatap. Aku ingin selalu ada disana, disudut matamu yang kau jadikan tempat menyembunyikan semuanya. Aku ingin jadi wanita yang kaugambarkan seluas dunia. Yang ketidakhadirannya bisa membuatmu bertanya-tanya.

Aku ingin jadi langkah kaki yang kepergiannya mampu membuatmu menanti. Diujung jalan atau ditepi pantai, dipertigaan atau disudut ruangan.

Aku ingin jadi buku yang setiap lembarnya kau baca dengan seksama. Melewati kalimat demi kalimat yang mungkin akan membuatmu terkesima atau bahkan kau perbaiki kesalahan pada ejaannya.

Aku bahkan ingin punya banyak bentuk. Sekalipun harus jadi narapidana karena mencintaimu adalah kesalahan. Atau jadi wanita gila karena ingin memilikimu adalah ketidakwarasan. Atau manusia dengan sebaik-baiknya bentuk, bila hanya dengan cara itu aku bisa mencintaimu.

Walaupun sedari awal ini semua hanya keinginanku, akan kutunggu kau mengabulkan semua itu. Tak apa untuk terus mencari orang selain aku. Kalau kau sudah lelah dengan berbagai pilihan, aku akan hadir sebagai jawaban.


Walaupun belum kau tanya tapi akan kujawab ‘iya’ sedari awal.

Kau pernah bilang memendam perasaan sendirian itu menjengkelkan, lalu kau kutertawakan. Kau dan aku tidak pernah berjanji tapi kita tahu bahwa dunia penuh warna dan kita berdua pelukisnya. Kau dan aku tidak pernah punya kesepakatan tapi kita tahu bahwa kita tidak pernah ’berdua’ melainkan satu.

Pernah aku merengek ingin ini itu tapi kau tidak mengerti. Lalu keesokan harinya setelah kupaksa berpikir akhirnya kau paham juga. Tidak banyak teka-teki karena kau dan aku sudah jelas. Tidak banyak pertanyaan karena kupikir aku sudah tahu.

Namun hari ini, untuk pertama kalinya, benakku dipenuhi tanya.  Setelah Panjang lebar membicarakan bentuk dan rupa cinta setiap malam, kau tidak lagi datang.

Diamku petang ini hanya untuk menafsirkan maksudmu. Untuk apa datang, untuk apa pergi, untuk apa datang lagi kemudian pergi sesuka hati. Aku tidak marah tidak pula merasa bersalah. Aku tidak pernah berpikir bahwa ‘kita’ yang selama ini kubicarakan itu ternyata cuma aku, tidak ada kamu didalamnya.

 Lalu menurutmu aku harus apa?. Melangkah tak bisa, melepas tak rela.

Telah kujadikan kakiku seringan kapas agar dengan melepasmu aku bisa berjalan bebas. Tapi sama saja, sebab untukmu rasa itu tak pernah benar-benar mati.

Walaupun kau tak kunjung bertanya, sudah kujawab ‘aku menyukaimu’ sedari awal.



Tumbuh dewasa artinya kamu harus banyak belajar. Jangan lagi meminta banyak hal lalu kesal sendiri kalau tak terkabulkan, kamu sudah besar. Dunia bukan tentang kue pelangi dan balon warna-warni.

Tak apa untuk tinggal di lingkungan yang melelahkan, atau belajar di sekolah yang tak kamu inginkan, atau, bahkan menerima kalau kamu bukan seseorang yang ingin dia ambil hatinya.

Jangan membayangkan hal buruk kalau ditengah jalan akan ada masalah baru, padahal dicoba saja belum. Kalau semesta bisa bicara ia pasti sudah bilang “Sudah diberi kesempatan, tidak tahu diuntung.”

Kegagalan itu pecahan kaca, tidak untuk dirangkai tapi untuk diterima. Jangan sedih, mungkin mimpi yang nyata sedang mengejarmu dibelakang. Semesta tahu kamu butuh apa.

Gagal itu fase yang harus kamu lewati, bukan untuk jadi alasan kamu berhenti lalu mati. Alasan mengapa kamu harus menjalaninya karena memang kamu pantas dan kamu mampu, orang lain belum tentu. Ya, kamu memang seistimewa itu.

Terima kasih sudah kuat menjalani hal-hal hebat. Untuk seluruh kegagalan dibelakang, anggap itu pelajaran. Tuhan takkan menjadikanmu tinggi jika ia tak membuatmu paham akan arti kegagalan.


Kamu lupa. Kamu lupa bahwa kita pernah ada. Walaupun tanpa judul sekalipun kita pernah bersama. Kamu berhasil membuatku mengiyakan semuanya dan ikut masuk didalamnya.

Aku pernah berhenti mencari dan bertahan demi usia hubungan yang lebih lama. Tapi kamu diam. Kering usahaku sering kau peras sementara kepalamu kian keras. Kau bilang kau suka tapi tidak. Kau bilang kau cinta tapi tidak. Mau mu apa?.

Pernah kita berjalan diatas bumi dengan angkuh seolah semuanya milik berdua. Kamu tahu aku tak mudah mencinta tapi kali ini berbeda. Kamu lupa bahwa rasa harus ada pasangannya.

Sampai kapan kau buat aku berkelahi dengan isi hati sendiri?.

Aku marah, ingin kubuat kau mati tenggelam hingga tak pernah muncul lagi tapi sayang aku pun akan mati kehilangan.

Mengapa melepaskan bagimu mudah sedangkan aku sesak napas dibuatnya?.

Memangnya harus seterjal ini untuk merelakan?. Rinduku masih membara meraja lela dan tidak pula mereda. Padahal perasaanya diberi dengan sukarela, tapi ternyata yang ikhlas tak mesti dibalas. Pernah dinomorsatukan saja ternyata tidak cukup.

Tidak akan ada lagi maaf-maaf yang lain. Kisah kita kututup rapat-rapat. Meskipun dulu kita akan saling pulang, rumahku bukan lagi dirimu. Jangan pernah datang, jangan pernah menyesal, luka harus kau telan dalam-dalam sama hal nya seperti aku.

Kalau kau bicara tentang ego, aku juga punya.

Tidak akan lagi ada kita.
Tidak akan.
Tidak.
Tidak kumaafkan.



Setelah menahan rasa hingga berdarah, kuputuskan untuk menulis aksara yang mengiang-ngiang dikepala. Untukmu manusia dengan senyum yang manis, sejak hari dimana kurapihkan serpihan hati yang porak poranda, aku kian memantaskan diri dan mencari apa-apa yang kiranya membawamu kembali. Tapi ternyata setelah dicoba rasanya sama saja, kita sudah selesai, kamu sudah tidak ada. Harus apa? Perasaanku terlalu banyak hingga kau sulit mengimbangi?. 

Kamu boleh menyebutku gila karena rela terluka dua kali hanya untuk meyakinkanmu kembali. Hingga jungkir balik kuisyaratkan padamu bahwa rasaku masih hidup, mekar dan tumbuh dengan subur tanpa perlu kau siram. Persetan dengan semua rasa kecewa yang mengikat erat batin dan kepala, meski dadaku sesak hingga bernapas pun harus disertai pejaman mata, kau harus tau bahwa kau tetap nomor satu.

Untuk mengenangmu aku tak butuh bicara.

Tak usah bertanya berapa besarnya, aku rindu. Rindunya mengakar didalam dada, menjalar sampai ke urat nadi

Bodoh;

Hatiku lebam membiru tapi masih saja mau mencintaimu. Katakan, katakan apa saja yang bisa membuatmu kembali, atau apapun yang membuatmu pergi. Biar kurayakan dengan sorak sorai dan teriak bila nyatanya hanya dalam diam aku bisa sepenuhnya menyayangimu. Akan kuteriakkan “Aku suka kamu!” semoga bisingnya terdengar agar kau bertanya-tanya, suara apa? Darimana?.

Lalu kujawab, dari sini, dari aku.

Newer Posts

Postingan Populer

  • Aku Ingin
    Aku ingin jadi manusia tempatmu pulang setelah sepanjang hari memangku beban. Menjadi satu-satunya telinga yang mendengar ceritamu tentang...
  • Rumpang
    Walaupun belum kau tanya tapi akan kujawab ‘iya’ sedari awal. Kau pernah bilang memendam perasaan sendirian itu menjengkelkan, lalu ka...
  • Tuhan dan Kita
    "Aku takut tuhan marah.” ucapku dengan wajah khawatir. Kau terdiam, kemudian semuanya berlalu begitu saja seolah Tuhan mengiyakan keput...

Mengenai Saya

Anggi weffani
Temukan saya di instagram @anggiweffani selamat membaca.
Lihat profil lengkapku

LET’S BE FRIENDS

recent posts

Blog Archive

  • Maret (1)
  • Februari (1)
  • Desember (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (2)
  • Mei (2)
  • April (5)






Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates