Sebelum membaca ‘jawaban’ , baca dulu ‘tanda tanya’ di sini.
***
Kamu pun tahu, cinta punya banyak rupa dan belum tentu kebersamaan adalah jawabannya.
Peduli atau tidak, kita pernah bersama dan itu membahagiakanku. Kepergianku bukan tanpa alasan, mencampakanmu pun bukan suatu ketenangan. Atas nama rindu dan kenangan manis yang pernah kita kecap bersama, aku tahu mempertahankan bukan hal yang mudah pun perpisahan tidak sepenuhnya indah. Tapi sebuah hubungan butuh banyak hal dan kepercayaan adalah salah satunya.
Mari kita longgarkan ikatan yang dulu menyakiti tubuhmu hingga biru. Gunakan waktu sendiri dengan sebaik-baiknya, aku adalah milikku sekarang dan kamu pun milik dirimu sendiri. Tidak ada kalimat indah yang pantas menghiasi kepergianku, tapi kamu harus paham aku tidak pernah benar-benar melambaikan tangan.
Sepi bukan teman yang baik tapi orang bilang ia menyembuhkan. Kita harus memperbaiki segala hal yang berantakan. Sama seperti katamu, aku pun Bahagia kita pernah ada, pernah bersama, tapi kata ‘pernah’ hanya omong kosong untuk segala pertengkaran kita.
Tidak perlu banyak menunjukan luka, aku tahu sendiri setelah berdua itu menyakitkan. Bukan hanya kamu tapi aku pun kehilangan. Setiap sudut kota punya cerita perihal kita, tempat itu pun masih ada, kita yang berakhir.
Rasi bintangmu yang kupelajari kecocokannya dengan milikku, menu makanan yang sering kau pesan di kedai seberang jalan, atau jaket yang kau banggakan karena warnanya adalah kesukaanmu. Tidak kulupakan hal kecil tentangmu yang khas dan lucu itu. Kita pernah ada dan akan selalu begitu.
Kamu harus mulai mencoba menata segala hal yang kamu anggap perlu dan mulai percaya dengan yang lainnya. Sesuatu yang pergi perlahan akan mulai merangkak menyesali tapi akan kucoba untuk mulai mengikhlaskan apa-apa yang dulu kita bangun dengan hati. Sudah, ya? bukan tidak bisa berdampingan dengan ketidaksempurnaanmu tapi kita butuh jeda.
Daripada kita mengulang rasa sakit berkali-kali, mari kita izinkan saja hati yang lain untuk menghuni.