Senin lalu kutanya kau mau apa?, kota impianmu itu yang bagaimana?.
Ke Surabaya naik sepeda atau ke luar angkasa?,
akan kulakukan untukmu semua..
Hari ini, kau di teras rumah bersama kopi,
kuhampiri dengan badan bau matahari.
Sudah siap saja sebotol bir berisi debu,
Requestmu yang waktu itu
“Ini, debu dari bulan hasil jerih payahku.” Berbinar, tanganku ruam-ruam.
“Jangan bercanda, memangnya kamu punya roket?” sembari tertawa,
kau berusaha memaklumi manusia aneh satu ini.
Tepuk tangan akan prestasiku ternyata cuma halu.
Aku diam saja.
Berdiri.
Tahu diri.
Takut debu dari bulan saja tidak cukup,
Kubakar hati dan perasaanku juga,
Tepuk tangan akan prestasiku ternyata cuma halu.
Aku diam saja.
Berdiri.
Tahu diri.
Takut debu dari bulan saja tidak cukup,
Kubakar hati dan perasaanku juga,
“Ini, untuk jaga-jaga, barangkali kurang.”